Abstract:
Latar belakang: Pembersihan dan pembentukan saluran akar merupakan tahapan penting pada perawatan saluran akar. Bahan irigasi diperlukan pada tahapan tersebut untuk membersihkan jaringan nekrotik, partikel dentin dan mikroorganisme. Syarat bahan irigasi saluran akar antara lain mampu melarutkan debris atau sisa jaringan, memiliki tegangan permukaan rendah, dan tidak bersifat toksik. Mangrove daruju (Acanthus ilicifolius) memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan irigasi saluran akar karena hasil fitokimia ekstrak daunnya menunjukan kandungan saponin, alkaloid, terpenoid dan tannin yang berpotensi sebagai antimikroba. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sitotoksisitas ekstrak daun Acanthus ilicifolius terhadap kultur sel fibroblas BHK-21 Metode: Sampel yang digunakan adalah sel fibroblas BHK-21 dengan metode kultur, diberi perlakuan ekstrak kloroform daun Acanthus ilicifolius dengan berbagai konsentrasi. Sampel dibagi menjadi 7 kelompok, 1:kontrol sel, 2: kontrol media, 3: 40mg/ml, 4: 50mg/ml, 5: 60mg/ml, 6: 70mg/ml, 7: 80mg/ml. Kemudian larutan MTT ditambahkan, 3 menit kemudian dilakukan inkubasi selama 4 jam. Larutan DMSO ditambahkan kemudian dikocok, sampel diperiksa menggunakan ELISA reader panjang gelombang 620. Sitotoksisitas dinyatakan dengan viabilitas sel, apapila >50%, maka tidak toksik. Data dianalisa menggunakan uji non parametrik (Kruskal-Wallis) dilanjutkan uji Mann-Whitney. Hasil: Uji Kruskal-Wallis membuktikan bahwa terdapat perbedaan viabilitas sel yang bermakna antar kelompok perlakuan. Beda rerata antar kelompok diuji dengan Mann-Whitney memperlihatkan perbedaan bermakna pada kelompok 1 dengan 5 dan kelompok 2 dengan 5. Kesimpulan: Ekstrak klorofom daun Acanthus ilicifolius tidak bersifat toksik terhadap kultur sel fibroblas BHK-21.